Sebanyak 131 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) melaksanakan kegiatan studi banding ke SD Islam Bani Hasyim Malang, Jawa Timur, pada Selasa, 20 Januari 2026. Kegiatan akademik ini didampingi oleh lima dosen PGSD dan diterima secara langsung oleh Kepala Sekolah SD Islam Bani Hasyim beserta jajaran guru dan pimpinan Yayasan.
Studi banding ini bertujuan untuk menambah wawasan mahasiswa terkait praktik pedagogi pembelajaran di sekolah dasar, khususnya dalam pengelolaan kurikulum, pengembangan keterampilan siswa, kepedulian terhadap lingkungan, serta penguatan kemampuan akademik dan nonakademik. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Program Studi PGSD dalam membekali mahasiswa dengan pengalaman nyata melalui pembelajaran kontekstual dan observasi langsung di satuan pendidikan dasar.
Salah satu fokus utama dalam studi banding ini adalah pengenalan kurikulum yang digunakan di SD Islam Bani Hasyim, yaitu The Living School. Kurikulum ini menitikberatkan pada pembentukan adab dan akhlak sebagai fondasi utama pendidikan. Dalam implementasinya, nilai-nilai karakter tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi dihidupkan dalam seluruh aktivitas sekolah, mulai dari pembelajaran di kelas, interaksi sosial, hingga budaya sekolah sehari-hari.
Dalam kunjungan ini, mahasiswa PGSD diajak berkeliling lingkungan sekolah untuk mengamati secara langsung fasilitas pendidikan, tata ruang, serta pelaksanaan pembelajaran di berbagai kelas. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh gambaran utuh tentang bagaimana lingkungan belajar dirancang untuk mendukung tumbuh kembang siswa secara holistik, baik dari aspek akademik, sosial, emosional, maupun spiritual.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa juga melakukan observasi terhadap berbagai aktivitas pembelajaran dan program pengembangan diri siswa. Sejumlah kegiatan yang diamati antara lain pembelajaran seni dan kreativitas, penguatan literasi bahasa asing, seni pencak silat sebagai bagian dari pendidikan jasmani dan karakter, hingga kegiatan seni menghias topeng tradisional. Aktivitas seni tersebut menjadi sarana penguatan budaya lokal sekaligus media pembelajaran yang menumbuhkan kreativitas, kerja sama, dan kecintaan siswa terhadap budaya bangsa.
Selain itu, mahasiswa mencermati bagaimana SD Islam Bani Hasyim menyusun sendiri buku-buku pembelajaran yang digunakan di sekolah. Penyusunan buku ajar secara mandiri ini bertujuan agar materi pembelajaran selaras dengan nilai, karakter, dan profil lulusan yang diharapkan sekolah. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan kepribadian dan karakter siswa secara konsisten.
Keunikan lain yang menarik perhatian mahasiswa adalah keterlibatan wali murid dalam proses pembelajaran. SD Islam Bani Hasyim memiliki kelas-kelas khusus yang diisi oleh wali murid sesuai dengan profesi masing-masing. Melalui kegiatan ini, siswa mendapatkan pengalaman belajar langsung dari praktisi di berbagai bidang, sementara orang tua turut berperan aktif dalam mendukung proses pendidikan anak di sekolah.
Tidak hanya itu, terdapat pula pembelajaran kolaboratif yang melibatkan siswa dan wali murid secara bersamaan. Model pembelajaran ini dirancang untuk membangun sinergi antara sekolah dan keluarga, sehingga proses belajar tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut di lingkungan rumah. Pendekatan ini dinilai efektif dalam menumbuhkan kesadaran bersama tentang pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak.
Salah satu mahasiswa peserta studi banding, Mesak, mahasiswa PGSD asal Papua, mengungkapkan kesan positifnya terhadap budaya sekolah yang diterapkan di SD Islam Bani Hasyim. Ia mengaku terkesan dengan atmosfer pendidikan di Jawa yang menekankan keseimbangan antara pencapaian akademik, penguatan budaya, dan pembentukan karakter siswa.
“Kami melihat bagaimana budaya sekolah dibangun dengan sangat kuat melalui kegiatan-kegiatan yang mendidik dan membentuk karakter. Ini menjadi pengalaman baru dan berharga bagi kami, terutama karena kami bisa melihat langsung praktik pendidikan yang menempatkan adab dan akhlak sebagai dasar utama,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu dosen pendamping, Arifah Muzayyanah, M.Pd., menilai bahwa praktik pendidikan di SD Islam Bani Hasyim sangat menarik dan relevan dengan tantangan pendidikan dasar saat ini. Menurutnya, sekolah tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga melatih keterampilan hidup (life skills) siswa sejak dini.
“Pembelajaran di sini memberikan contoh konkret bagaimana sekolah dapat menjadi ruang pembentukan karakter, keterampilan sosial, dan kemandirian siswa. Ditambah dengan keterlibatan orang tua dan penyusunan bahan ajar mandiri, sekolah benar-benar menghadirkan pendidikan yang hidup dan bermakna,” jelas Arifah.
Ia menambahkan bahwa guru-guru di SD Islam Bani Hasyim juga secara rutin mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi profesional dan pedagogik. Hal ini menunjukkan komitmen sekolah dalam menjaga kualitas pembelajaran serta memastikan bahwa setiap pendidik mampu mengimplementasikan kurikulum The Living School secara optimal.
Melalui kegiatan studi banding ini, mahasiswa PGSD diharapkan memperoleh pengalaman nyata mengenai praktik pendidikan dasar yang holistik, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi profesional sebagai calon guru sekolah dasar.
Kegiatan studi banding ini sekaligus memperkuat kesiapan mahasiswa PGSD FKIP dalam menghadapi dunia pendidikan di masa depan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga pada pembentukan adab, akhlak, dan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
